Berencana Membeli Rumah Pertama? Perhatikan 6 Tips Berikut Ini

Sebagai barang yang termasuk dalam kategori kebutuhan primer, memiliki rumah sendiri sudah terasa seperti kewajiban untuk setiap orang. Hal ini juga lah yang menyebabkan ketersediaan rumah yang ada menjadi semakin sedikit setiap waktu dikarenakan tingginya permintaan pasar.

Untuk mengatasi itu, pemerintah saat ini meluncurkan program rumah subsidi yang diperuntukkan bagi masyarakat yang memiliki keterbatasan finansial dan belum pernah memiliki rumah sendiri sebelumnya. Secara spesifik, syarat untuk memperoleh fasilitas subsidi rumah ini adalah pemasukan yang dimiliki harus di bawah empat juta rupiah per bulannya.

Nah, jika kamu termasuk ke dalam golongan yang berhak menerima fasilitas subsidi rumah dari pemerintah ini dan berencana membeli rumah pertama kamu dalam waktu dekat, sebaiknya kamu persiapkan seluruh berkas dan kebutuhannya mulai sekarang.

Namun karena rumah subsidi yang disediakan oleh pemerintah hanya tersedia dalam bentuk KPR, maka untuk syarat berkas KPR kamu bisa menanyakannya langsung kepada developer yang terkait.

Selain syarat berkas, ada tips membeli rumah pertama yang harus kamu perhatikan.

1. Buat Rencana Jangka Panjang

Membeli rumah pertama tentunya tidak seperti membeli jajanan pinggir jalan ataupun membeli baju di e-commerce. Untuk itu, kamu wajib memiliki perencanaan yang matang dan dalam jangka panjang agar keuanganmu tidak menjadi keteteran.

Hal-hal yang perlu kamu pikirkan saat membuat perencanaan keuangan adalah seperti:

– Kapan akan menikah? (Jika belum menikah)
– Kapan akan memiliki anak? (Jika sudah menikah)
– Kapan waktu melahirkan (Jika sudah hamil)
– Bagaimana tabungan pendidikan anak? (untuk yang sudah menikah ataupun belum)

Pertanyaan-pertanyaan di atas perlu untuk dijawab agar tidak terjadi tumpang tindih antara kebutuhan yang bersifat penting dengan kebutuhan untuk membeli rumah pertama.

Kamu tentu tidak ingin ketika sedang membayar cicilan rumah, kemudian mendapat tagihan biaya sekolah anak sementara sisa tabungan tidak mencukupi untuk menutup keduanya. Untuk itu perhatikan pada saluran-saluran pengeluaran yang bersifat penting.

Cara termudah untuk menganalisisnya adalah dengan membuat daftar pada catatan sesuai dengan urutan prioritas tertinggi/terpenting yang harus dibayar. Lalu buat catatan pada daftar-daftar tersebut tentang tanggal pasti jatuh tempo pembayaran. Dengan begitu akan terlihat mana pembayaran yang harus dibayar lebih dulu beserta urgensinya. Apakah bisa dirapel bulan depan ataukah tidak.

Dengan membuat perencanaan seperti ini kamu akan memiliki gambaran luas mengenai kondisi keuanganmu beserta beban yang harus kamu penuhi serta apakah kondisi yang sekarang mampu menopang kebutuhan ataukah tidak.

2. Sesuaikan dengan Tabungan

Jika kamu belum pernah memiliki rumah dan baru akan membeli rumah pertama, hindari untuk berfokus pada luas lahan yang besar atau bangunan yang megah. Utamakan pada kepemilikan pertama terlebih dahulu. Manfaatkan fasilitas rumah subsidi yang disediakan oleh pemerintah seperti yang telah kami singgung di atas.

Apabila kamu terlalu berfokus pada lebar dan luas lahan ataupun jumlah lantai bangunan, maka tabunganmu akan terjebak pada nominal yang besar yang harus dikejar. Sementara nilai properti semakin tahun semakin bertambah tinggi. Dikhawatirkan ketika nominal tabungan sudah mencapai angka yang ditargetkan, harga rumah yang diincar telah bertambah mahal.

Untuk itu, dalam membeli rumah pertama fokuskan pada kepemilikan terlebih dulu. Walaupun hanya seluas 6×14 dan hanya satu lantai atau bahkan yang lebih kecil, selama sudah menjadi milik sendiri, itu lebih baik daripada terlalu lama menabung tanpa memiliki rumah sendiri. Dengan begitu target untuk memiliki rumah pertama lebih mudah tercapai.

3. Cari Informasi Mengenai Developer

Saat ini penipuan berkedok pengembang perumahan masih marak terjadi di banyak kota-kota. Modusnya beragam. Mulai dari promo yang tidak masuk akal, seperti “DP rumah suka-suka”, hingga perumahan yang fiktif.

Nah agar kamu tidak menjadi korban dari developer bodong ini, kamu perlu mencari tahu lebih dulu latar belakang dari developer yang menjadi target pembelian rumah pertamamu. Hal-hal yang perlu kamu perhatikan adalah:

  • Kredibilitas pengembang. Bisa kamu dapatkan dengan melakukan search di Google. Pengembang yang kredibel akan sangat terbuka mengenai info perusahaan mereka, info detail produk, hingga alamat lengkap lokasi marketing gallery mereka. Kamu perlu waspada jika mendapatkan informasi yang tidak jelas atau tidak lengkap.

    Tanyakan kejelasan sertifikat. Pengembang bodong akan berbelit mengenai kejelasan sertifikat, termasuk informasi mengenai bisa tidaknya sertifikat berbalik nama. Memang untuk durasi pemrosesan di notaris dapat beragam, namun pengembang yang kredibel dapat memberikan jaminan waktu berapa lama proses selesai.
  • Survei lokasi. Dengan datang langsung ke lokasi proyek yang diiklankan, kamu dapat menilai sendiri apakah apa yang dipromokan dengan kenyataan lapangan sesuai atau tidak. Jika menemukan perbedaan dari brosur dengan kondisi lapangan, pastikan untuk meminta kejelasan dari pengembang.

4. Pahami Skema Pembayaran

Selanjutnya kamu perlu memperhatikan skema pembayaran apa saja yang disediakan oleh pihak developer tempat kamu membeli rumah pertama kamu. Pada dasarnya ada dua jenis pembayaran yang dikenal secara umum dalam membeli rumah, yaitu: cash dan kredit. Namun beberapa developer juga menyediakan alternatif lain seperti cash tempo, yang berarti kamu dapat ‘menyicil’ pembayaran rumah namun harus langsung lunas dalan kurun waktu yang telah ditentukan.

Lalu apa perbedaan cash tempo dengan kredit?

Sekilas memang terlihat sama dikarenakan proses pembayaran dapat dicicil. Namun yang membedakan adalah tenor pelunasan yang disediakan. Pada cash tempo, umumnya tenor yang disediakan tergolong cepat (jangka waktunya pendek) seperti: 6 bulan, 1 tahun, 18 bulan, 2 tahun).

Sementara pada skema pembayaran kredit, tenor yang diberikan jauh lebih panjang dan bervariasi, seperti: 5 tahun, 7 tahun, 10 tahun, 15 tahun. Bahkan ada developer yang memberikan tenor kredit sampat 20 tahun hingga 25 tahun.

Perbedaan skema pembayaran ini perlu kamu pahami ketika membeli rumah pertama agar kamu dapat memperkirakan skema mana yang cocok dengan kondisi keuangan yang kamu miliki; atau berapa lama kamu mau dan mampu untuk mencicil rumah yang baru saja dibeli. Sehingga arus keuangan menjadi sehat dan kebutuhan lainnya pun juga dapat terpenuhi dengan baik.

5. Pastikan Cicilan Flat

Setelah mengetahui bentuk-bentuk skema pembayaran yang umumnya disediakan oleh pengembang, jangan lupa untuk menanyakan mengenai skema cicilan jika kamu berencana untuk mengambil pembayaran secara kredit.

Tanyakan apakah cicilan yang dibebankan adalah cicilan flat atau cicilan yang masih dipengaruhi oleh perkembangan suku bunga bank. Hal ini penting untuk memastikan jumlah pengeluaran yang kamu keluarkan untuk rumah tidak berubah sehingga kamu bisa memprediksi pengeluaran dalam satu bulan.

Jika jumlah pengeluaran bisa diprediksi dan bersifat tetap, kamu dapat mengatur perencanaan keuangan bulanan dengan lebih nyaman dan mudah.

6. Antisipasi Biaya Tambahan

Membeli rumah pada dasarnya tidak hanya berurusan pada produk akhirnya saja. Kamu juga perlu memahami bahwa membeli rumah dari developer berarti ada peralihan kepemilikan sebagaimana ketika membeli barang lain.

Namun yang membedakan adalah: kepemilikan properti (rumah dan tanah) perlu dicatat oleh negara melalui pencatatan oleh Notaris. Gunanya adalah agar properti yang kamu miliki nantinya memiliki dasar hukum yang jelas. Sehingga ketika suatu saat ada orang lain yang tiba-tiba mengklaim properti yang kamu miliki, kamu sudah memiliki surat bukti kepemilikan.

Nah proses pembuatan surat dan akta ini juga membutuhkan biaya tambahan yang biasanya dibebankan kepada pembeli. Biaya-biaya tambahan seperti ini lah yang perlu kamu perhatikan. Misalnya saja Bea Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) yang dapat kamu ketahui nominal yang harus dibayarkan dengan rumus:

Tarif Pajak 5% x Dasar Pengenaan Pajak (NPOP – NPOPTKP)

Besaran Nilai Pajak Objek Pajak (NPOP) dan Nilai Pajak Objek Tidak Kena Pajak (NPOPTKP) tiap daerah berbeda-beda, namun kamu dapat mengaturnya pada nominal Rp60 juta sebagai angka minimal sebagaimana yang tertuang dalam Undang-Undang No. 8 Tahun 2009 pasal 87 ayat 4.

Dengan menghitung biaya-biaya tambahan di luar harga rumah, kamu dapat memperkirakan berapa biaya akhir yang harus kamu keluarkan dalam membeli rumah pertama kamu.

Referensi:
https://www.instagram.com/p/CPS2kxHrrx-/?utm_medium=copy_linkhttps://www.instagram.com/p/CL3t5_MAjiA/?utm_medium=copy_linkhttps://www.instagram.com/p/CCf3bx-AJZJ/?utm_medium=copy_linkhttps://www.instagram.com/p/CMB-FM2AySv/?utm_medium=copy_linkhttps://www.instagram.com/p/CM1d7HDLIL5/?utm_medium=copy_linkhttps://www.instagram.com/p/CGj6yxXB6d4/?utm_medium=copy_linkhttps://sikapiuangmu.ojk.go.id/FrontEnd/CMS/Article/20574https://www.rumah123.com/panduan-properti/membeli-properti-77728-cara-melaporkan-developer-nakal-id.html

Rumah Sempit: Solusi Alternatif Punya Rumah Sendiri

Memiliki rumah yang lebar dan besar memang menjadi idaman semua orang. Tidak hanya terkesan megah, rumah yang lebar juga memberikan kenyamanan karena keleluasaan yang diberikan.

Sayangnya, dengan semakin bertambahnya jumlah masyarakat yang membeli rumah dan tanah, maka jumlah lahan yang tersedia pun semakin sedikit. Belum lagi harga properti yang cenderung selalu naik tiap tahunnya — yang menyebabkan sebagian orang lebih memilih berinvestasi jangka panjang dengan properti. Ini membuat harga rumah dan properti hampir semakin tidak terjangkau.

Namun ada salah satu cara untuk mensiasati keinginan kamu untuk memiliki rumah sendiri kok. Yaitu dengan membeli tanah kaveling dengan ukuran yang tidak terlalu besar untuk kemudian didirikan rumah minimalis di atasnya.

Eh, memang bisa?
Bisa kok!

Tren Rumah Sempit

Beberapa tahun belakangan ini rumah sempit minimalis, atau micro-housing, ramai menjadi perbincangan dan diskusi di antara entusias properti dan perumahan. Secara teknis, rumah sempit adalah rumah yang didirikan di atas lahan yang terbatas atau lebih kecil daripada rumah pada umumnya.

Cara ini diambil agar pemilik lahan tetap dapat memiliki rumah sendiri meskipun dengan luas yang minimalis. Sehingga biaya yang dikeluarkan dapat lebih hemat dibandingkan dengan memiliki rumah dengan luas yang standar.

Salah satu contoh rumah sempit yang sempat viral adalah rumah The Twins yang berada di Cipulir, Jakarta Selatan. Rumah karya agensi arsitektur Delution ini hanya memiliki lahan seluas 70 meter persegi, namun di atasnya mampu didirikan hingga dua rumah sempit yang saling menghubung. Sehingga masing-masing rumah memiliki luas bangunan kurang dari 35 meter persegi.

Uniknya, meskipun sempit namun The Twins justru menyabet penghargaan dari Architizer dalam kategori ‘Best Architecture + Small Living by People Choice’.

Karakteristik dan Dekorasi

Dalam menata rumah sempit, ada beberapa karakteristik yang bisa dikatakan sebagai fundamental agar rumah sempit tetap dapat dihuni dengan nyaman:

 

1. Jadikan Dua Lantai

Ini adalah tips yang penting. Dengan membuat bangunan menjadi dua lantai, kamu akan lebih dapat memaksimalkan ruang yang ada sesuai fungsinya. Misalnya: menempatkan kamar tidur, kamar mandi, dan dapur di lantai dua. Sehingga di lantai satu dapat dimaksimalkan untuk ruang keluarga dan ruang tamu. Sehingga meskipun bangunan memiliki luas yang kecil, kamu tetap mendapatkan ruangan-ruangan penting beserta fungsinya dengan baik

 

2. Buat Ruangan Open Space

Konsep Open Space adalah mengurangi sebanyak mungkin sekat yang ada dan memberikan lebih banyak ruangan yang terbuka. Namun tetap perhatikan kekokohan bangunannya ya! Jangan sampai kamu mengorbankan tiang pondasi. Hehe.

Dengan membuat ruangan menjadi Open Space, aliran udara akan lebih baik dan lebih lancar sehingga rumah tidak terkesan sumpek. Selain itu, ruangan juga akan terkesan lebih luas meskipun secara teknis memiliki luas yang kecil. Lalu apakah tidak perlu memberikan sekat sama sekali? 

Jika kamu berpendapat sekat pada ruangan adalah hal yang penting, kamu bisa mempertimbangkan rak buku atau lemari kayu untuk dijadikan sekat portable. Sehingga ketika kamu memerlukan ruangan yang luas kamu hanya perlu memindah rak buku atau lemari tersebut. Sebaliknya, ketika kamu ingin mendapatkan privasi di ruangan yang lebih dalam dan tidak ingin terlihat oleh orang asing di ruangan depan, kamu bisa menempatkan kembali rak buku atau lemari kayu pada tempatnya. Cara ini akan memudahkan kamu serta mengurangi biaya pembangunan sekat tembok.

 

3. Berikan Ventilasi Lebar

Ingat, rumah sempit memiliki luas yang terbatas. Sementara sirkulasi udara adalah salah satu fundamental terpenting pada sebuah rumah. Untuk itu pastikan kamu menempatkan ventilasi yang lebar agar udara dapat bersirkulasi dengan baik. Dengan begitu kualitas udara di dalam rumah akan jadi baik dan rumah tetap nyaman ditempati. Kamu dapat mempertimbangkan jendela dengan material kaca sebagai alternatif. Dengan memiliki jendela kaca yang lebar, kamu bisa mendapatkan pencahayaan yang bagus melalui pantulan kaca serta sirkulasi udara yang bagus melalui jendela yang dibuka.

 

4. Jika Memungkinkan, Tambahkan Taman

Kalau kamu menyukai berkebun, kamu masih bisa berkebun di rumah sempit kok. Ada dua cara yang bisa kamu lakukan, yang pertama adalah menyiapkan taman di dalam rumah sempit. Kamu bisa menempatkan taman di bagian belakang atau samping rumah yang dapat diakses dari dalam rumah namun tetap bersifat outdoor. Dengan begitu kamu akan mendapatkan suasanya yang lebih menyenangkan, terlebih ketika sedang hujan. Namun, kamu harus mengorbankan luas ruangan untuk diubah menjadi taman indoor.

Cara kedua adalah dengan mengubah atap menjadi taman. Cara ini cocok dengan karakteristik rumah sempit yang cenderung memiliki dua lantai. Namun kamu harus memastikan bentuk atap kamu tidak runcing. Sehingga dapat di-setting dengan menambahkan tanah, rumput, tanaman hias, hingga tempat duduk atau sofa untuk bersantai. Jangan lupa untuk menambahkan sisi yang beratap agar tidak basah saat hujan. Pastikan juga saluran air pembuangannya tidak mampet dan dapat mengalirkan air dengan baik agar tidak menggenang.

 

5. Berikan Interior Sesuai Konsep

 Rumah berkonsep saat ini sedang menjadi tren. Hal ini karena bangunan atau rumah yang memiliki visual yang enak dipandang mampu mendukung kenyamanan seseorang untuk betah tinggal di sana. Alasan yang sama yang melatarbelakangi banyaknya coffee shop yang mengedepankan visual dan konsep pada outlet mereka.

Ada banyak konsep/tema yang dapat kamu terapkan pada rumah kamu. Misalnya:

 

Bagaimana?
Sudah mulai terbayang gambaran rumah impian kamu?

Luas rumah tidak lagi jadi hambatan jika kamu dapat mengatur interior dan visual rumah kamu agar terasa luas dan tidak sumpek. Hanya saja, kamu harus memastikan terdapat ventilasi yang cukup untuk sirkulasi udara yang baik dan untuk pencahayaan. 

Nah langkah selanjutnya yang harus kamu lakukan adalah mencari informasi daftar harga rumah beserta skema pembayaran yang sesuai dengan kemampuan finansialmu. Sehingga kamu tinggal beberapa langkah lagi dari memiliki rumah sendiri.

Contact Us

Site Ahsana Tuban

Back To Top